Kamis, 27 Mei 2010

DINAMIKA KEBUTUHAN MANUSIA ( PSIKIS dan PISIK ) MULAI DARI MASA BALITA, KANAK-KANAK, REMAJA DEWASA dan LANSIA

1. Masa Balita

Pada waktu kita di lahirkan di dunia ini kita masih fitrah ( suci ), kita di besarkan orang tua kita dengan cara kita menyusu ke ibu kita sehingga kita bisa bertahan hidup dan mengalami pertumbuhan yang semakin lama kita akan menjadi manusia yang fisiknya kuat. Balita memerlukan kebutuhan ASI kurang lebih dua tahun dan setelah itu balita telah bisa memakan nasi yang berbentuk bubur ( promoni ) dalam masa balita ini antara 0-5 tahun, balita tidaklah banyak memerlukan kebutuhan, balita hanyalah memerlukan kebutuhan makan dan minum serta gizi yang banyak untuk perkembangan tubuhnya agar tubuhnya dapat tumbuh menjadi lebih besar lagi.

2. Masa kanak-kanak

Pada masa kanak-kanak ini di sekitaran usia 5-12 tahun, ini mengalami peningkatan kebutuhan dalam hidupnya selain kebutuhan makan dan minum. Anak-anak juga memerlukan kebutuhan lainnya seperti kebutuhan dalam pendidikan bagi anak tersebut, kesenangan seperti maenan, pergaulannya sesama anak-anak yang lainnya dan keinginan-keinginannya yang masih bersifat manja kepada orang tuanya dalam hal ini kebutuhan ini termasuk penting bagi anak-anak dalam menjalani kehidupannya, mengapa karena kebutuhan selain makan dan minum bisa berdampak pada psikis ( jiwa ) anak-anak tersebut.

3. Masa remaja

Pada masa remaja sekitaran usia 12-22 tahun ini remaja mengalami peningkatan kebutuhan selain pendidikan, makan dan minum remaja juga banyak memerlukan kebutuhan karena pada masa ini remaja mengalami pergaulan yang luas dalam hidupnya dan pada masa remaja ini juga mengalami puberitas ( mengalami perubahan pola tingkah laku ) semakin bertambah usia otomatis semakin besar pula kebutuhan seseorang itu ( remaja ) tetapi kebutuhan yang di maksud di sini adalah kebutuhan untuk dirinya sendiri bukan kebutuhan yang ada di sekitarnya, karena pemikirannya hanya baru memikirkan diri sendiri ( masih ada ego ) dan baru mencari jati diri yang sebenarnya.

4. Masa dewasa

Pada masa dewasa ini di sekitaran usia 22-49 tahun. Pada masa ini remaja yang telah beranjak ke dewasa makin bertambah kebutuhannya apa lagi kebutuhan ekonomi karena pada masa ini kita telah berumah tangga ( mempunyai keluarga ), otomatis kebutuhan bertambah apa lagi di zaman yang makin lama makin susah ini, di tambah lagi apa bila kita telah di beri berkah dari Allah SWT seseorang, dua orang, tiga orang, atau malah banyak anak itu akan menambah beban hidup yang otomatis akan menambah kebutuhan hidup seseorang.

5. Masa lansia

Pada masa ini di sekitaran usia 45-wafat terbilang masa lansia ( masa tua / senja ) pada masa ini kebutuhan tidak jauh berbeda dengan kebutuhan yang ada pada masa dewasa tetapi ada malah yang sebaliknya di mana pada masa ini orang yang telah lansia banyak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya di akibatkan karena fisik yang telah menurun dan sifat yang mulai menjadi ke pola tingkah anak-anak yang ingin selalu si perhatikan oleh orang yang ada di sekitarnya apa lagi kepada keluarga dekatnya yaitu anakya.

Selasa, 25 Mei 2010

shalat sebagai media penyembuhan penyakit

BAB I
PENDAHULUAN
Allah berfirman;
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang2 yang beriman.” (An-Nisa’: 103)
“perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)
“katakanlah kepada hamba2-Ku yang telah beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat” (Ibrahim: 31)
“Peliharalah segala shalat(mu) dan peliharalah shalat wustha.” (Al-Baqarah: 238)
Latihan2 olah raga merupakan salah satu aktivitas yang dianjurakan oleh ilmu kesehatan. Membiasakan latihan2 seperti itu bisa membetuk kebugran tubuh yang mesti terpenuhi, demi terciptanya akal sehat. Aktivitas shalat 5 kali sehari merupakan media terbaik untuk merengkuh manfaat positif darinya. Karena waktu shalat adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan latihan2 tersebut.
Pasalnya, waktu sebelum terbitnya matahari terdapat hawa yang menyegarkan dan karenanya dapat membangkitkan energi tubuh. Waktu Dzuhur di saat orang melepas lelah dari kesibukan adalah saat yang sangat tepat untuk memulihkan keseimbangan energi. Waktu ashar di saat aktivitas seseorang menjelang usai adalah masa yang sangat tepat untuk mengembalikan daya energi dalam tubuh. Waktu Maghrib adalah masa dimana seseoarang menyongsong aktivitas baru (memulai kegiatan baru). Sedangkan waktu Isya adalah waktu diman tubuh memerlukan energi baru, setelah seharian penuh beraktivitas yang sangat melelahkan. Kelima waktu itulah yang merupakan beberapa masa yang paling tepat bagi seseorang untuk mengganti energi dirinya yang sempat “hampir” hilang.
Bagi pakar muslim, gerakan2 shalat mulai dari berdiri, duduk, dan sujud yang dilakukan berulang-ulang dalam sehari adalah jalan terbaik untuk melancarkan sistem peredaran darah. Denagn lancarnya sistem peredaran darah, maka seluruh organ tubuh bertambah energik.
BAB II
PEMBAHASAN
SHALAT SEBAGAI MEDIA PENYEMBUHAN
1. PENGERTIAN
Selain melaksanakan perintah agama, mengobati kerinduan jiwa pada sang Pencipta, sholat juga punya efek yaitu menyehatkan tubuh. Seorang pakar ilmu pengobatan tradisional, Prof H Muhammad Hembing Wijayakusuma, telah melakukan penelitian yang mendalam tentang hal itu. Hasil penelitian itu disebarkannya kepada umat Islam, baik melalui media massa maupun buku yang berjudul “Hikmah Sholat untuk Pengobatan dan Kesehatan”. Bahkan, duduk Tasyahud diyakini bisa menyembuhkan penyakit tanpa operasi.
Apa hubungan sholat dengan kesehatan ? menurut Hembing, setiap gerakan-gerakan shalat mempunyai arti khusus bagi kesehatan dan punya pengaruh pada bagian-bagian tubuh seperti kaki, ruas tulang punggung, otak, lambung, rongga dada, pangkal paha, leher, dll. Berikut adalah ringkasan yang bermanfaat untuk mengetahui tentang daya penyembuhan di balik pelaksanaan sholat sebagai aktivitas spiritual.
1. Berdiri tegak dalam sholat.
Gerakan-gerakan sholat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan juga mampu mencegah dan meyembuhkan berbagai macam penyakit. Hembing menemukan bahwa berdiri tegak pada waktu sholat membuat seluruh saraf menjadi satu titik pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang pungggung lurus dan bekerja secara normal, kedua kaki yang tegak lurus pada posisi akupuntur, sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh.
2. Rukuk.
Rukuk juga sangat baik untuk menghindari penyakit yang menyerang ruas tulang belakang yang terdiri dari tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang dan ruas tulang tungging. Dengan melakukan rukuk, kita telah menarik, menggerakan dan mengendurkan saraf-saraf yang berada di otak, punggung dan lain-lain. Bayangkan bila kita menjalankan sholat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat sehari semalam. Kalau rakaat kita rukuk satu kali, berarti kita melakukan gerakan ini sebanyak 17 kali.
3. Sujud.
Belum lagi gerakan sujud yang setiap rakaat dua kali hingga junlahnya sehari 34 kali. Bersujud dengan meletakan jari-jari tangan di depan lutut membuat semua otot berkontraksi. Gerakan ini bukan saja membuat otot-otot itu akan menjadi besar dan kuat, tetapi juga membuat pembuluh darah dan urat-urat getah bening terpijat dan terurut. Posisi sujud ini juga sangat membantu kerja jantung dan menghindari mengerutnya dinding-dinding pembuluh darah.
4. Duduk tasyahud.
Duduk tasyahud akhir atau tawaruk adalah salah satu anugerah Allah yang patut kita syukuri, karena sikap itu merupakan penyembuhan penyakit tanpa obat dan tanpa operasi. Posisi duduk dengan mengangkat kaki kanan dan menghadap jari-jari ke arah kiblat ini, secara otomatis memijat pusat-pusat daerah otak, ruas tulang punggung teratas, mata, otot-otot bahu, dan banyak lagi terdapat pada ujung kaki. Untuk laki-laki sikap duduk ini luar biasa manfaatnya, terutama untuk kesehatan dan kekuatan organ seks.
5. Salam.
Bahkan, gerakan salam akhir, berpaling ke kanan dan ke kiri pun, menurut penelitian Hembing punya manfaat besar karena gerakan ini sangat bermanfaat membantu menguatkan otot-otot leher dan kepala. Setiap mukmin pasti bisa merasakan itu, bila ia menjalankan sholat dengan benar. Tubuh akan terasa lebih segar, sendi-sendi dan otot akan terasa lebih kendur, dan otak juga mempu kembali berfikir dengan terang. Hanya saja, manfaat itu ada yang bisa merasakannya dengan sadar, ada juga yang tak disadari. Tapi harus diingat, sholat adalah ibadah agama bukan olahraga.


6. Tahajjud = Anti kanker.
Sebuah penelitian ilmiah yang lain membuktikan bahwa sholat tahajjud membebaskan seseorang dari pelbagai penyakit. Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Penelitinya adalah dosen fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya meraih gelar doktor. Sholeh melakukan penelitian terhadap siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin menunaikkan sholat tahajjud.
Sholat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata sholeh, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental sepert stress maupun depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai macam penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastatis (penyebarab sel kanker).
Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus gerak hidup manusia) yang ditandai dengan pengikatan hormon kortison. Perlu diketahui, hormon kortison ini biasa dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stress, depressi atau tidak.
Untungnya, kata Sholeh, stress bisa dikelola, dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengfan eduikatif, cara teknis relaksasi, atau perenungan / tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). Nah, sholat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai pereda stress yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secar natural, jelas sholeh dalam disertainya yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajjjud terhadap Pengingkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik”.
Pada saat yang sama, sholat tahajjjud pun bisa mendatangkan stress, terutam bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu karena akan terjadi kegagalan dalan menjaga Homeostatis (daya adaptasi) terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dilaksanakan dengan iklas dan kontintyu akan sebaliknya. Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal, kalau melaksanakan sholat tahajjud dengan ihklas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal sholat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas), ungkap alumni pesantren lirboyo kediri Jatim ini.
Menurutnya, sholat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyum khusuh, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menimbulkan mekanisme pereda stress yang efektif.
2. PENDAPAT PARA AHLI
Para ahli lain juga berpendapat bahwa sholat itu salah satu tekhnik penyembuhan sakit mental, dan pendapat itu antara lain :
1. Shalat merupakan Terapi Mental Paling Ampuh
Saat seseorang mengerjakan shalat, terjadilah proses penentraman jiwa dan relaksasi tubuh dalam menghadap Sang Pencipta secara berulang-ulang. Shalat menjadi sebuah momen dimana seseorang dapat meredakan emosi dan melunakkan kegelisahan di antara rutinitas sehari-hari yang ia jalankan. Dari sini, akan terpancar ketentraman jiwa dan ketenangan fisik yang diperlihatkan oleh shalat.
2. Shalat adalah salah satu teknik terbaru dalam Terapi Perilaku yang dipraktikan oleh para psikiater
Psikiater yang menggunakan shalat sebagai media terapi, akan melatih dan membiasakan pasien untuk mengubah posisi saat maah. Misalnya, kalau pasien sedang marah sambil berdiri maka disarankan untuk duduk. Jika pasien duduk dalam keadaan marah, maka disarankan untuk berbaring terlentang lalu membuang ketegangan saraf sampai kemarahannya hilang. Dalam dunia kedokteran, hal ini disebut "pembentukan perilaku".
Dr. Thomas Heislub berkata, ”Bagi saya shalat merupakan salah satu unsur utama penyangga aktivitas tidur seseorang yang saya ketahui lewat pengalaman empiris dan penelitihan bertahun2. Saya katakan ini dalam kapasitas profesi saya sebagai dokter (dan sebagai tanggung jawab moral yang saya tekuni). Shalat dapat dijadikan sebagai media utama untuk menentramkan jiwa, dan juga menebarkan kenyamanan ke segenap jaringan urat syaraf yang saya ketahui hingga sekarang”.
Sementara itu, Dr. Edwin Frederick selaku dosen pada fakultas ilmu urat syaraf yang tinggal di AS pernah berkata, ”Ada ribuan dokter, namun tidak satupun diantaranya yang terkenal. Mayoritas mereka memiliki intelegensia rendah. Kendati demikian ada secercah harapan karena mereka dapat meyembukan penyakit2 dan menjaga kesehatan melalui sebuah mukjizat. Mukjizat yang bernama sahalat”.
Dr. Casius Carl, peraih gelar nobel dalam bidang kedokteran dan mereka ketua bidang penelitian di Yayasan Roskfler, AS, pernah berkata, ”Di sini setidaknya shalat membicarkan tentang cara kerja (aktivitas) organ tubuh manusi. Bahkan sejauh ini ia diyakini sebagai faktor kreativitas manusia. Saya dalam hal ini memandang dari sudut keilmuan yang saya geluti. Di kala para pasien telah gagal dalam terapi penyembuhannya dengan metode mengkonsumsi obat2an, maka seorang dokter menegadahkan tangannya dengan penuh khusyu dan harap dengan kepasrahannya. Konon ketika ia shalat, tiba2 saja penyakitnya sirna, lenyap.
Shalat bagai logam radium, yakni sebagai sumber penyinaran yang terus menerus menghasilkan aktivitas2 lain. Dampak posistif shalat juga terasa seperti yang kita rasakan bersama dalam persolan ”patologi”. Banyak kasus orang sakit yang terbebas dari berbagai macam penyakit seperti TBC, britonis, radang tulang, luka2 yang bernanah dan kanker.

3. CONTOH FAKTOR-FAKTOR PENYEMBUHAN
a. Pembentukan komunitas masyarakat yang hidup dalam lingkungan kasih sayang. Orang yang bersembahyang jiwanya akan merasa tentram dan aman sehingga timbul rasa saling mengkasihi sesama umatNya.
b. Pembentukan sikap lembut dan rendah hati kepada orang lain.Maksudnya adalah bahwa setiap orang yang shalat tidak ada perbedaan perasaan lebih tinggi dari pada seseorang yang lainnya, meskipun ia seorang pejabat sekalipun. Karena dihadapan Tuhan, semua makhluk tidak ada yang lebih besar atau kecil jabatannya dalam shalat.
c. Mengkikis habis faktor-faktor kedengkian tertahap orang lain. Pada intinya, seseorang yang paham dengan manfaat shalat ia akan senantiasa memiliki anti-dengki terhadap sesamanya, karena didalam shalat terkandung kelembutan yang bisa membuat hati pelaksananya tenang.
d. Pemupusan rasa asing yang banyak dikeluhkan para penderita penyakit jiwa. Dalam shalat, seseorang yang jiwanya sakit, akan melihat banyaknya harapan karena buah dari kesabarannya melaksanakan shalat.
e. Pendidikan jiwa sosial dalam bermasyarakat. Melihat orang bersembahyang di mushola atau di masjid tentu memberikan kesan sendiri untuk orang yang tadinya tidak terbiasa dengan masyarakat. Orang yang tadinya egois bahkan tertutup, jika ia rajin shalat dan terbiasa bertemu dengan orang lain akan mencair lah hatinya yang kaku akan bersosialisasi.
Dengan muatan faktor yang begitu hebat, maka shalat tidak diragukan lagi sebagai obat mujarab yang menyembuhkan Penyakit di dalam hati. Itulah alasan Allah menyuruh manusia untuk melakukan shalat yang tidak lain adalah untuk kebaikan manusia sendiri.
Ada satu hal ynag menarik perhatian bagi seorang dokter forensik (visum), dokter orthopedic (tulang) terkenal asal prancis, kala ia berlibur ke Mesir. Di sela2 kunjunagnnya di antara Masjid2 Mesir, ia menemukan praktik pengobatan baru untuk penyakit2 punggung. Terapi saki punggung ysng disjuksn adalah dengan cara melakukan gerakan shalat 5 kali sehari. Pasalanya, aktivitas sujud dan ruku’ adalah gerakan2 yang berfungsi untuk memperkuat tulang punggung, dan berguna untuk melemaskan tulang belakangnya (sumsum). Ketika itu juga, kala tur ke negeri asing ini, sambutan hangat dari masyarakatpun tampak. Dengan serta merta mereka berusaha keras menyaksikan praktik shalat, untuk mengetahui kiat2 menjaga tulang sumsung belakang agar tetap kuat.
Di samping itu, secara ilmiah telah ditetapkan, bahwa ruku’, berdiri (tegap) dan sujud ternyata mampu menguatkan otot2 punggung dan perut. Juga sekaligus bisa melenyapkan berbagai minyak dan lemak yang terkadang menempel di dinding2 perut.
Sedangkan sujud, berfungsi sebagai penguat otot2 paha dan lutut. Juga membantu lairan peredaran darah ke seluruh organ tubuh, menguatkan dinding2 perut dan menstabilkan pencernaan usus.
Gerakan sujud adalah aktivitas yang berguna untuk mengkonversi gejala2 penyakit pembengkakan pada lambung yang diakibatkan pengerutan otot2nya. Juga akibat dioperasikannya katup penghalang yang terletak antara perut dan dada.
Dari sini shalat dapat dipandang sebagai olah raga jasmani yang bermanfaat bagi tubuh. Karena ia mampu menggerakkan seluruh organ tubuh, baik otot2, persendian, maupun tulang.
Faedah dan keuntungan shalt bagi organ tubuh tidak hanya sebats itu saja. Pengobatan saat ini menetapkan terapi penurunan darah tinggi bisa ditempuh dengan melaksanakn shalat. Jika seseorang rajin melaksanakn shalat, sedangkan ia mengidap penyakit darah tinggi, maka lambat laun akan menemukan hasilnya. (Abdurrazak Naufal, Al- Islam wal ’Ilmul Hadist)
Para pakar Islam sepakat bahwa dengan melakukan shalat secara teratur sebelum makan, berarti sama halnya menjaga dan melindungi diri dari penyakit2 perut. Lebih2 penyakit akibat luka lambung. Karenanya orang yang mengidap penyakit maag, selalu dianjurkan untuk mengekang konsumsi makanan selama terjadi sensitivitas kepekaan urat2 syaraf yang berakibat sering cepat naik pitam. Jika dalam kondisi seperti ini, sangat dianjurkan untuk menenangkan lebih dahulu hingga mencapai suasana rileks, santai dan fresh. Setelah itu barulah mengkonsumsi makanan.
Penemuan ilmiah yang menunjukkan bahwa shalat mempunyai dampak langsung terhadap sistem kerja syaraf. Karena ia bisa menghilangkan ketegangan, menentramkan pergolakan jiwa dan sekaligus sebagai terapi kegoncangan2 (penyakitnya). Lebih dari itu, shalat juga menjadi obat penyembuh yang mujarab bagi orang yang sulit tidur akibat guncangnya sistem urat syaraf.
Salah seorang guru olah raga Mesir berpendapat bahwa gerakan2 yang lebih dikenal dengan istilah ”Gerakan Hitam” sebenarnya telah banyak mengadopsi konsep shalat yang didalamnya terdapat gerakan2 fisik. Dalam pelaksanaanya, haruslah dengan cermat dan teratur. Yakni, dimulai dengan sikap tegak, beralih ke sikap ruku’, dan diteruskan beberapa saat berdiri tegap. Kemudian barulah gerakan2 sujud. Dari gerakan sujud, dilanjutkan ke gerakan bangun, lalu untuk kali kedua kembali sujud, dan disempurnahkan dengan berdiri tegap. Hal ini dilakukan berulang2 dari rakaat pertama ke rakaat kedua dan barulah bertasyahud, begitulah dilakukan pengulangan gerakan untuk mencapai shalat yang sempurna.
Begitu pula dengan barisan makmum. Mereka berdiri pada garis sejajar, bersama2 menuju arah kiblat dan tegak berdiri dalam jarak satu jengkal antara kedua telapak kakinya. Sedangkan kakinya dalam posisi berimbang. Para pakar telah mengemukakan pendapatnya bahwa berdiri dengan meregangkan kedua telapak kaki dapat membantu menjaga keseimbangan kala turun untuk bersujud dan bangkit darinya. Juga bisa lebih menguatkan urat syaraf.



BAB III
KESIMPULAN
Dari keseluruhan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat seperti olah raga fisik yang dilakukan seseorang dengan ”variasi gerakan” yang mencakup keseluruhan organ tubuh. Tak salah lagi shalat dapat membangkitakan aktivitas dan kreativitas dan sekaligus mencegah kemalasan serta mampu menghilanhkan keletihan.
Lebih dari itu, shalat adalah ”olah raga spiritual” bertemunya ruh sang hamba dengan Sang Maha Pencipta yang menyimpan pesan pembaruan dan perelaan. Itulah hasil penemuan sains modern setelah rentang masa 14 abad lamanya.
Shalat bagai logam radium, yakni sebagai sumber penyinaran yang terus menerus menghasilkan aktivitas2 lain. Dampak posistif shalat juga terasa seperti yang kita rasakan bersama dalam persolan ”patologi”. Banyak kasus orang sakit yang terbebas dari berbagai macam penyakit seperti TBC, britonis, radang tulang, luka2 yang bernanah dan kanker.
Ada sejumlah pakar Islam yang belum megetahui banyak tentang poenggabungan pandangan2 agama dan syiar2nya. Dengan munculnya studi semacam ini, mungkinkah bagi seseorang untuk menyalahgunakan nilai2 shalat sebagai langkah preventif guna penyembuhan penyakit2.






DAFTAR PUSTAKA

1. http://mukjizatdiislam.blogspot.com/2008/05/allah-berfirman-sesungguhnya-shalat-itu.html.
2. http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=33.
3. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1979326-teknik-penyembuhan-mental-melalui-shalat/.

Kamis, 20 Mei 2010

PERKEMBANGAN NILAI, SIKAP, DAN MORAL SEORANG REMAJA

Masa remaja merupakan suatu proses pertumbuhan dan kelanjutan pengetahuan menuju bentuk sikap dan tingkah laku yang mengarah pada kedewasaan. Sedikit demi sedikit kondisi kejiwaan mereka berkembang, lebih memaknai apa yang mereka alami serta lebih peka pada kondisi emosional di sekitar mereka. Mereka mulai bisa mengendalikan emosi sehingga moral dan sikap mereka menunjukkan nilai dalam kehidupan.

Berbicara soal moral berarti berbicara soal perbuatan manusia dan juga pemikiran dan pendirian mereka mengenai apa yang baik dan apa yang tidak baik, mengenai apa yang patut dan tidak patut untuk dilakukan sehingga dapat dikatakan moral merupakan standar perilaku yang disepakati yang dapat dipakai untuk mengukur perilaku diri sendiri sekaligus perilaku orang lain.(Bambang Santosa, 2007:71). Perilaku bermoral tersebut didasarkan atas nilai-nilai yang ada. Nilai dapat diartikan sebagai ukuran baik atau buruknya sesuatu.

Bisa juga diartikan sebagai harga (value) dari sesuatu. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud.

Nilai bersifat abstrak, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Meskipun abstrak, nilai merupakan suatu realitas, sesuatu yang ada dan dibutuhkan manusia.

Jadi, nilai bersifat normatif, suatu keharusan yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku, misalnya nilai kesopanan dan kesederhanaan. Misalnya, seseorang yang selalu bersikap sopan santun akan selalu berusaha menjaga tutur kata dan sikap sehingga dapat membedakan tindakan yang baik dan yang buruk.

Dengan kata lain, nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru kemudian akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut.

Kondisi psikologis remaja mengalami ketidakstabilan. Dalam keadaan seperti itu, mereka perlu dibimbing untuk mengenal nilai-nilai dalam kehidupan yang tidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun saja, tetapi juga nilai-nilai keagamaan, keadilan, estetik dan nilai-nilai intelektual dalam bentuk-bentuk sesuai dengan perkembangan remaja.

Dengan sendirinya, mereka akan belajar tentang moral dari orang-orang dan keadaan di sekelilingnya. Berkembangnya kejiwaan dan intelektual membuat keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.

Penilaian moral menjadi semakin kognitif sehingga mereka terdorong untuk berani mengambil keputusan dari bebagai masalah yang dihadapinya dengan lebih mengesampingkan sifat egisentris yang juga melibatkan emosi (Sunarto, 1999:171).

Menurut Furter(1965), kehidupan moral merupakan problematik yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan, untuk dapat memahami, mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting. Ada 3 tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu:

I. Pra-konvensional.

II. Konvensional

III. Post-konvensional.

Tingkatan tersebut diawali dari stadium nol dimana anak menganggap baik apa yang sesuai dengan permintaan dan keinginannya.

Tingkat I : Pra-konvensional.

Pada stadium 1,anak menganggap baik dan buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya berupa kepatuhan dan hukuman atas kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Misalnya, jika anak tidak mau belajar maka dia tidak akan diijinkan untuk bermain dengan temannya. Pada stadium 2, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian dapat dipandang dari berbagai sisi yaitu sisi manfaat dan kerugiannya.

Tingkat II : Konvensional.

Pada stadium 3, anak mulai memasuki umur belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Pada stadium 4, anak merasakan bahwa perbuatan baik yang diperlihatkan bukan hanya agar dapat diterima lingkungan, tetapi juga bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan atau norma sosial, contohnya seorang remaja yang mulai belajar menghormati orang yang lebih tua dengan bersikap ramah dan santun. Tingkat III : Post-konvensional

Pada stadium 5, remaja menyadari adanya hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial melalui kata hati yang dirasakannya. Maksudnya, jika dia menjalankan kewajibannya sebagai anggota masyarakat maka lingkungan aka memberikan perlindungan dan rasa nyaman padanya.

Pada stadium 6 (Prinsip Universal), remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri, menjadikan penilaian moral sebagai nilai-nilaipribadi yang tercermin pada tingkah lakunya.

Perkembangan nilai, moral dan sikap dipengaruhi oleh berbagai faktor yang semuanya dimulai sejak manusia berada dalam kandungan. Janin memiliki hubungan batin yang erat dengan orang tuanya terutama ibu sehingga merespon persaan yang dirsakan orang tuanya. Jadi moral anak yang akan lahir dapat dipengaruhi oleh perilaku orang tuanya selama anak tersebut berada dalam kandungan.

Ketika anak berada dalam masa perkembangan, pembentukan moralnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Dimulai dari lingkungan keluarga, dimana orang tua mengenalkan nilai-nilai sederhana seperti kesopanan terhadap ayah dan ibu. Saat pergaulan anak tersebut makin luas pada usia remaja, dia akan mengenal lebih banyak nilai-nilai kehidupan melalui kejadian-kejadian di sekitarnya.

Remaja terdorong untuk mengidentifikasi peristiwa yang dialaminya sehingga dapat membedakan sikap mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dilakukandan akhirnya akan menentukan bagaimana moral yang dimilikinya. Contohnya, dia dapat menimbang apakah membolos itu merupakan perbuatan baik atau tidak.

Dapat dikatakan bahwa lingkungan adalah faktor yang paling penting bagi perkembangan nilai, moral dan sikap remaja yang seiring dengan pematangan kepribadian remaja tersebut.

Pengertian moral dan nilai pada anak-anak umur sepuluh atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua (dewasa). Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak untuk dipatuhi karena diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa diubah lagi.

Pengertian mengenal aspek moral pada anak-anak yang lebih besar itu lebih lentur dan nisbi. Ia bisa menawar atau minta mengubah sesuatu aturan kalau disetujui oleh semua orang. Untuk sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvesional.

Pada tahap ini, seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan harapan masyarakat. Pada tingkatan awal mereka hanya menghindari hukuman. Sedangkan tingkatan berikutnya sudah ada pengertian bahwa untuk memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang lain.

Menurut Kohlberg faktor kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan moral. Perbedaan seseorang juga dapat dilihat pada latar belakang kebudayaan tertentu. Dalam kenyataan di sekitar kita, dapat diamati bahwa moral masyarakat Negara-negara Barat berbeda dengan moral yang dimiliki oleh Negara Negara Timur. Hal ini dikarenakan latar kebudayaan yang sangat berbeda.

Sebagai contoh, bagi masyarakat di Negara Negara barat menggunakan pakaian-pakaian minim (seksi) di khalayak umum adalah hal yang biasa bahkan menjadi budaya dan kebiasaan. Akan tetapi,bagi masyarakat Timur hal tersebut sangat tidak lazim bahkan dianggap tidak bermoral atau memalukan.

Hal ini mencerminkan bahwa perkembangan moral masyarakat Timur bisa disebut lebih sopan moralnya dalam hal berbusana daripada masyarakat Barat.

Terdapat perbedaan- perbedaan individual dalam pemahaman nilai-nilai dan moral sebagai pendukung sikap dan perilakunya. Jadi mungkin terjadi
individu atau remaja yang tidak mencapai perkembangan nilai, moral, dan serta tingkah laku. Perwujudan nilai, moral, dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya.

Tidak semua individu mencapai pengembangan nilai-nilai hidup, perkembangan moraldan tingkah laku seperti yang diharapkan.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai,moral dan sikap remaja adalah berikut:





a. Menciptakan komunikasi.

Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral. Tidak hanya memberikan evaluasi, tetapi juga merangsang anak tersebut supaya lebih aktif dalam beberapa pembicaraan dan pengambilan keputusan. Di lingkungan keluarga, teman sepergaulan, serta organisasi atau kelompok. Sedangkan disekolah misalnya anak diberi kesempatan untuk kerja atau diskusi kelompok. Sehingga anak berperan secara aktif dalam tanggung jawab dan pengambilan keputusan.



b. Menciptakan iklim lingkungan yang serasi.

Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu, dan moral dan kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan secara positif,jujur dan konsekuen dalam tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tersebut.

Untuk remaja, moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan suatu pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri.

Pedoman ini untuk menumbuhkan identitas diri,kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik yang selalu terjadi di masa ini. Nilai nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengatur tingkah laku baik buruk.

Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu lingkungan yang lebih bersifat mengajak, mengundang, atau member kesempatan akan lebih efektif daripada lingkungan yang ditandai dengan adanya larangan- larangan yang bersifat serba membatasi.

EUTANASIA

1. SEJARAH EUTHANASIA
A. Asal-usul kata eutanasia

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik) and "thanatos" (maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian yang baik". Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM. Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu. Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan.
B. Eutanasia dalam dunia modern

Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undang-undang anti eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang pada beberapa tahun kemudian diberlakukan pula oleh beberapa negara bagian. Setelah masa Perang Saudara, beberapa advokat dan beberapa dokter mendukung dilakukannya eutanasia secara sukarela.

Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun 1935 dan di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada pelaksanaan eutanasia agresif, walaupun demikian perjuangan untuk melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di Amerika maupun Inggris. Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss sepanjang pasien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan daripadanya.

Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pasien yang sakit parah dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang mengajukan permohonan eutanasia kepada dokter sebagai bentuk "pembunuhan berdasarkan belas kasihan".

Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial dalam suatu "program" eutanasia terhadap anak-anak dibawah umur 3 tahun yang menderitan keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka tak berguna. Program ini dikenal dengan nama Aksi T4 ("Action T4") yang kelak diberlakukan juga terhadap anak-anak usia diatas 3 tahun dan para jompo / lansia.[2]
C. Eutanasia pada masa setelah perang dunia

Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia, pada era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh cacat genetika.
2. Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya

Ditinjau dari sudut maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu eutanasia pasif, eutanasia agresif dan eutanasia non agresif

* Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya dengan memberikan obat-obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

* Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (eutanasia otomatis)yang termasuk kategori eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Auto-eutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek eutanasia pasif atas permintaan.

* Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat ataupun meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup pasien, ataupun dengan cara pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin walaupun disadari bahwa pemberian morfin ini juga dapat berakibat ganda yaitu mengakibatkan kematian. Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung dilakukan oleh kebanyakan rumah sakit.

Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis, maupun pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang atau keputusasaan keluargan karena ketidak sanggupan menanggung beban biaya pengobatan. Ini biasanya terjadi pada keluarga pasien yang tidak mungkin untuk membayar biaya pengobatannya, dan pihak rumah sakit akan meminta untuk dibuat "pernyataan pulang paksa". Bila meninggal pun pasien diharapkan mati secara alamiah. Ini sebagai upaya defensif medis.
3. Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin

Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

* Eutanasia diluar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan eutanasia yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.

* Eutanasia secara tidak sukarela: Eutanasia semacam ini adalah yang seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien.

* Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial.

4. Eutanasia ditinjau dari sudut tujuan

Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu :

* Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing)
* Eutanasia hewan
* Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela

5. Eutanasia menurut ajaran agama
Dalam ajaran Islam

Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[25]

Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga .[26]

6. Contoh Kasus
Kasus Hasan Kusuma – Indonesia
Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan disamping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang diluar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.[34]

PUBERITAS

Pengertian Pubertas
Secara etimologis Pubertas berasal dari kata Lati yang berarti “ usia kedewasaan “. Kata ini lebih mengindikasikan pada perubahan fisik dari perubahan perilaku yang terjadi ketiak individu secara seksual menjadi matang dan mampu memberikan keturunan.
Hurlock berpendapat bahwa masa Pubertas adalah masa dalam rentang perkembangan ketiak anak-anak berubah dari makhluk aseksual manjadi makhluk seksual. Adapun Root berpendapat : “ masa Pubertas adalah masa suatu tahap dalam perkembangna saat terjadi kematangan alat-alat reproduksi.
Selama berabad-abad mayoritas orang primitif mengenal masa pubertas sebagai masa yang penting dalam rentang kehidupan semua individu, dan semua individu pasti merasakan masa-masa puberats. Terjadinya perubahan tubuh pada seseorang menunjukkan anak tersebut siap melangkah dari masa kanak-kanak menuju masa remaja.
Begitu anak laki-laki dan perempuan berhasil melewati ragam ujian, tantangan pada masa-masa pubertas maka mereka berhak mendapatkan gelar sebagi remaja baru, atau yang kita enal pada saat sekarang ini dengan sebutan ABG.
Sedangkan menurut oranr-orang Yunani kuno masa puber adalah masa perubahan pisik-pisik dan perilaku. Ariestoteles mengatakan : “ sebagian besar laki-laki mulai memproduksi sperma setelah usianya 14 tahun. Pada saat yang sama rambut kemaluan mulai tumbuh. Dan pada saat itu juga payudara perempuan mulai membesar , dan di tandai dengan datangnya haid untuk pertamakalinya. Sedangkan bagi laki-laki adalah mimpi basah juga untuk yang pertamakalinya.
Berkaitan dengan perubahan-perubahan prilaku maka Ariestoteles menjelaskan bahwa anak-anak perempuan yang sedang mengalami masa puber menjadi mudah marah, penuh gairah, sangat rajin. Akibatnya perkembangan dan dorongan-dorongan seksualnya akan timbul, dan memerlukan pengawasan. Pada masa ini sulit bagi mereka karena mengalami masa perubahan, dan di sinilah peran orang tua dan guru sangat membantu akan perkembangannya.

2. Ciri-Ciri masa Pubertas.
Masa puber adalah masa yang unik dan khusus di tandai oleh berbagai ciri-ciri yang tertentu, dan ciri-ciri itu adalah :
1. masa transisi dan masa tumpang tindih.
Masa puber merupakan masa transisi dan masa perubahan serta masa tumpang tindih, di katakan transisi sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa remaja. Tumpang tindih sebab beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanaknya masih ada di milikinya, sementara ciri-ciri remaja juag di milikinya. Jadi kesimpulannya adalah masa puber itu merupakan masa-masa akhir tahun dari masa kanak-kanak dan tahun awal dari masa remaja.
2. masa yang relatif singkat
masa puber juga di namakan masa yang relatif singkat, di lihat dari beragamnya perubahan yang terjadi di dalam maupun di luar fisiknya. Waktunya hanya sekitar 2 sampai 4 tahun saja, anak-anak yang masa pubernya hanya 2 tahumn di namakan anak-anak yang cepat matang. Namun anak-anaka yang masa pubernya sampai pada 4 tahun di namakan anak-anak yang lambat matang.
3. masa pubertas itu bertahap.
masa puber ini memiliki tahap yaitu :
A. tahap pra pubertas.
Tahap ini di sebut juga tahap pematangan yaitu 1-2 tahun masa kanak-kanak. Dan di anggap sebagai masa pra puber, sehingga ia tidak di sebut seorang anak-anak dan tidak pula seorang remaja. Pada masa ini ciri-ciri seks skunder sudah mulai tampak, namun organ-organ reproduksinya belum begitu berkembang.
B. tahap pubertas.
Tahap ini di sebut juga tahap matang, yaitu terjadi paeda garis pembagian abntara anak-anak dan faris remaja muda. Dan pada saat ini kematangan seksual mulai muncul, anak perempuan akan haid, dan anak laik-laki akan mimpi basah.
C. tahap pasca pubertas.
Tahap ini menyatu dengan tahun pertama atau ke dua remaja { cowok-cewek }. Pada tahap ini, ciri-ciri seks skunder sudah berkembang baik dan organ-organ seks pun sudah berkembang dengan baik.
3. penyebab masa pubertas
Penyebab terjadinya masa puber ini belum di ketahui hingga pada saat sekarang in, dan akan terus menjadi teka-teki, memang telah banyak riset yang di lakukan tentang penyebab puber ini, tetapi para ahli endokrinologi belum mampu menjelaskan keragaman masa puber dan memerlukan waktu untuk memecahkan teka-teki tersebut.
Namun berbagai medis menemukan riset bahwa sebelum anak matang secara seksual, pengeluaran hormon-hormon seksnya baik pada anak lai-laki atau anak perempuan. Jarang terjadi, akan tetapi dengan semakin meningkatnya jumlah hormon yang di keluarkan maka semakin meningkat pula organ-organ seks dan akan semakin matang.
Oleh karena itu ada 3 hal yang menjadi penyebab masa puber, yaitu peran kelenjar pituitary, peranan gonad, dan interaksi, dan ke 3 ini di namai oleh Hurlock dengan “ kondisi-kondisi yang menyebabkan perubahan masa puber “ buakn penyebabnya terjadi pubertas.
1. peran kelenjar pituitary : perannya yaitu memproduksi 2 homon. Hormon prtumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu. Sedangkan hormon yang di hasilkan yang ke 2 adalah hormon gonadotropik yaitu sebagai peransang.
2. peranan gonad : seiring pertumbuhan gonad maka bertambah besarlah organ-organ seks. Yaitu seks priemer pun menjadi matang, begitu pula dengan seks skunder tumbuhnya rambut di kemaluan.
3. interaksi antara kelenjar pituitary denagn hormon gonad. Hormon yang diproduksi oleh gonad yang telah di ransang oleh hormon gonadotrofik yang di produksi, maka di salurkan ke kelenjar pituitary, kemdian mulailah beraksi terhadap kelenjar ini . dan secara berangsur-angsur mengakibatkan penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang di produksi sehingga menjadikan proses pertumbuhan terhenti.
4. masa pubertas merupan masa fase negatif.
Bertahun-tahun yang lalu , Charlotte Buhler menamakan masa puber itu debagai fase negatif. Istilah “ fase “ di artikan sebagai periode yang berlansung singkat, sedangkan “ negatif “ di artikan bahwa sesuatu sikap individu yang mengatakn sikap “ anti “ terhadap ke hidupan atau kelihatannya kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah berkembang.
Terdapat bukti bahwa sikap dan perilaku negatif merupakan ciri dari abgian awal masa puber dan yang terburuk dari fase negatif ini akan berakhir apabila individu secara seksualnya matang. Juga dapat di buktikan dari perilaku yang khas dari fase negatif masa puber lebih menonjol anak perempuan dari pada anak laki-laki.

BEBERAPA ISTILAH DALAM KONSELING

TUTOR, FASILITATOR, MEDIATOR, PAMONG, INSRUKTUR, PSIKOLOGI, PSIKIATER

1. PENGERTIAN TUTOR
Tutorial adalah layanan bantuan belajar kepada mahasiswa yang bersifat akademik. Dalam tutorial, kegiatan belajar mahasiswa dilakukan di bawah bimbingan tutor sebagai fasilitator.
A. Jenis Tutor
1.Tutorial tatap muka.
Tutorial tatap muka dilaksanakan oleh UPBJJ-UT dan UT-Pusat (Fakultas). Tutorial dilakukan sebanyak 8 kali dan mahasiswa diberi tugas sebanyak 3 kali. Tutor berasal dari PTN/PTS dan telah terakreditasi. Untuk memperoleh informasi tentang jadwal, tempat, dan biaya tutorial, mahasiswa dapat menghubungi UPBJJ-UT terdekat dan Fakultas di UT-Pusat.
2.Tutorial Melalui Radio, Televisi, dan Media Massa
Mahasiswa dapat mengikuti tutorial radio lewat Programa Nasional 1 RRI dengan gelombang FM 92.8 MHz, gelombang MW 1332 kHz dan SW 9680 kHz pada pukul 14.35–15.00 WIB. Tutorial melalui radio ini diadakan 6 kali dalam seminggu, Senin s.d. Sabtu. Sementara itu, khusus untuk guru, tutorial melalui televisi dapat disimak melalui TV Edukasi saluran 2. Siaran ini dipancarluaskan melalui Satelit Telkom 1 dengan posisi parabola diarahkan ke Polarisasi Horizontal dengan frekuensi siaran 3807 MHz, Downlink 3807 MHz. Symbol Rate (SR) 4000 pada hari Sabtu pukul 14.00-16.00 WIB, dan melalui satelit pada saluran SWARA pada hari Senin s.d. Minggu pukul 05.00-05.30 WIB. Di samping itu, beberapa media massa lokal juga menyajikan tutorial untuk mahasiswa UT, untuk informasi ini dapat ditanyakan kepada petugas UPBJJ-UT.
3.Tutorial Online
Di samping tutorial tatap muka, radio, televisi, dan media masa mahasiswa dapat juga mengikuti tutorial secara online (Tuton). Tutorial ini disediakan agar mahasiswa secara individual mendapatkan akses khusus yang berbeda dengan mahasiswa yang lain. Fitur ini dikenal sebagai fasilitas My-UT. Fitur tersebut menyediakan fasilitas tuton selaras dengan registrasi mata kuliah yang dilakukan oleh mahasiswa pada saat semester berjalan. Jika seseorang mahasiswa telah melakukan aktivasi account, maka otomatis mahasiswa tersebut dimasukkan ke dalam kelompok tuton untuk mata kuliah yang tersedia. Tuton dilaksanakan tanpa dikenakan biaya. Pada fitur My-UT ini juga tersedia fasilitas untuk memperoleh bahan ajar suplemen, bahan ajar audio/video, naskah Latihan Mandiri (LM), mengerjakan LM secara online, dan peragaan nilai guna meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa UT.
Mahasiswa harus melakukan aktivasi account pada situs UT melalui. Setelah proses ini dilakukan mahasiswa akan memperoleh account password untuk dapat masuk ke layanan tuton. Mahasiswa yang hendak mengikuti tuton harus memiliki alamat e-mail yang valid. Tuton dapat diakses dengan menggunakan menu yang ada dalam situs UT. Sebelum mahasiwa melakukan proses login, dianjurkan kepada para mahasiswa agar men-download dan membaca Panduan Tuton yang telah tersedia pada situs tutorial tersebut. Apabila mahasiswa mempunyai masalah dalam mengakses situs Tuton, maka mahasiswa dapat berkonsultasi melalui Saat ini bahan ajar suplemen dan pengembangannya diletakkan di dalam fasilitas My-UT sehingga dapat diakses oleh mahasiswa UT.
4.Konseling OnLine
Apabila mahasiswa mempunyai masalah dalam suatu mata kuliah maka mahasiswa tersebut dapat meminta bantuan pada Forum Diskusi yang tersedia di dalam situs UT; atau dapat juga mengirim email ke dengan subjek: “Permintaan Bantuan Belajar atau ”, atau hubungi melalui e-mail masing-masing Ketua Jurusan atau Ketua Program Studi.
2. PENGERTIAN FASILITATOR
Fasilitasi berasal dari kata Perancis, facile dan Latin facilis, yang artinya mempermudah (to facilitate = to make easy). Jadi, secara superfisial fasilitator bisa diartikan sebagai orang yang mempermudah.
Fasilitator adalah mereka yang ditugasi untuk melakukan fasilitasi dalam proses pembelajaran. Sebutan fasilitator biasanya digunakan dalam proses pembelajaran orang dewasa, dan metoda yang dipakai dalam proses ini adalah metoda andragogi. Metoda ini dirancang mengacu pada pendidikan orang dewasa, suatu model pendidikan yang mengutamakan penggalian, pendalaman, pengembangan, pegejawantahan pengalaman dan potensi individu secara optimal.
Beberapa tahapan yang dilakukan dalam metoda ini yakni mengalami, mengemukakan, mengolah, melakukan simpulan, serta diakhiri dengan aplikasinya. Dalam akronim yang lebih mudah untuk diingat disingkat dengan AKOSA (Alami, Kemukakan, Olah, Simpulkan dan Aplikasikan ).
Dengan kata lain tugas fasilitator dalam sebuah proses pembelajaran orang dewasa hakekatnya mengantarkan peserta didik untuk menemukan sendiri isi atau materi pelajaran yang ditawarkan atau yang disediakan melalui /oleh penemuannya sendiri.
Dalam praktiknya, kata ”mempermudah” memiliki arti berbeda bagi orang berbeda. Dalam dunia birokrasi, memfasilitasi kerap dimaklumi sebagai pemberian fasilitas, entah dalam bentuk dana, sarana, alat dll. Sehingga memfasilitasi adalah memberi sesuatu yang mempermudah penyelesaian suatu pekerjaan.
Dalam sejumlah projek pembangunan, pengertian fasilitasi mengarah pada ”mempermudah” dengan cara memberi bantuan teknis (keterampilan, informasi, dll) pada masyarakat. Karena itu, kita mengenal fasilitator dengan keterampilan teknis yang spesifik seperti fasilitator air dan sanitasi, fasilitator kesehatan masyarakat, mikro kredit, gizi masyarakat, dan lain-lain. Di sini, fasilitasi merujuk pada pengelolaan partisipasi masyarakat sekaligus pemberian keterampilan, informasi, atau pilihan-pilihan metode atau teknologi untuk diadopsi masyarakat.
Perspektif global tentang fasilitator tampaknya berbeda dengan pengertian-pengertian di atas. Prinsip utama fasilitasi adalah proses, bukan isi. Seperti dijelaskan Hunter et al, (1993), facilitation is about process – how you do something – rather than the content – what you do. Facilitator is process guide; someone who makes a process easier or more convenient to use.
Dari sisi teknis, keterampilan utama fasilitator adalah bertanya (yang didapat dari hasil mendengarkan). Sedemikian pentingnya, banyak fasilitator profesional yang menyimpulkan bahwa fasilitasi adalah fungsi dari bertanya.
Dengan bertanya, fasilitator memposisikan dirinya netral untuk kemudian membuka dan mengundang partisipasi, yang kemudian dikelola dalam dialog lalu mengerucutkan pada suatu kesepakatan bersama. Secara singkat, ada tiga pembabakan penting, yakni divergensi (memfasilitasi munculnya keragaman ide), dialog (mempertemukan dan mendialogkan ide-ide), dan kemudian konvergensi (mengerucutkan ide-ide).
Sudah barang tentu untuk dapat menemukaan substansi materinya, perlu dibimbing atau dirangsang oleh orang lain utamanya fasilitator maupun anggota lain dalam kelompok tersebut. Peserta belajar sendirilah yang menemukan dan mengolahnya.
Kolb menegaskan bahwa belajar hakekatnya merupakan proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, ketrampilan atau kebiasaan baru yang secara kualitatip lebih baik dari sebelumnya melalui sebuah proses yang disebut dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkann diri secara keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik.
Untuk menawarkan dan menyediakan materi ajar dalam mengantarkan peserta didik agar dapat menemukan substansi materinya, kemampuan fasilitator melakukan komunikasi dan mempresentasikan pemikirannya dalam sebuah proses pembelajaran sangat penting. Tanpa kemampuan komunikasi yang baik, serta kemampuan melakukan peresentasi yang baik, proses transfer ide tidak akan terjadi sehingga niscaya prosess itu akan berhasil.
Di dalam melakukan komunikasi itulah nampaknya juga diperlukan cara atau strategi yang harus digunakan agar tujuan pembelajaran bagi orang dewasa dapat tercapai. Penguasaan strategi belajar mengajar harus dikuasai dengan benar.
Strategi pembelajaran berkaitan dengan teknik-teknik penyajian pelajaran (Roestiyah : 2001 :v), suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan dalam rangka proses pembelajaran. Kesemuanya itu tentunya berangkat dari etika dan moral baik sebagai prasyarat mutlak yang harus dipunyai oleh seorang fasilitator.
Etika dan moral berkaitan sekali dengan aspek sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku dapat dilihat dari manifestasi kepemimpinan, disiplin, integritas, kerjasama dengan peserta didik serta prakarsa untuk mengelola kelas dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Dikaitkan dengan organisasi yang mampu berkembang seiring dengan perkembangan lingkungan yang senantiasa berubah dimana organisasi harus selalu mampu untuk mengembangkan kapasitasnya untuk menciptakan masa depan yang baik, maka tujuan akhir pembelajaran hakekatnya adalah menciptakan organisasi pembelajar (learning organization) yang oleh Peter Senge (1990) didefinisikan sebagai “suatu organisasi dimana orang-orangnya secara terus menerus meningkatkan kapasitas mereka untuk mencapai tujuan yang mereka dambakan, dimana pola pikir baru dipelihara, aspirasi kolektif dibiarkan bebas, dan dimana orang-orang secara terus menerus belajar untuk bagaimana belajar besama-sama”.
Dengan demikian pertanyaan bagaimana menjadi fasilitator yang baik ?.
Nampaknya jawaban yang paling sederhana adalah bahwa ada 2 (dua) variabel determinan yang mempengaruhi yakni :
1.Sikap dan perilaku fasilitator
2.Kemampuan akademik fasilitator.
Sikap dan perilaku berkaitan dengan etika dan moral fasilitator dengan indikator :
a.Disiplin, kepemimpinan;
b.Integritas;
c.Kerjasama dan prakarsa;
Kemampuan akademik berkaitan dengan :
a.Penguasaan substansi mata ajar yang dipilihnya.
b.Mampu berkomunikasi dengan baik, serta dapat mentransfer buah pikirannya kepada orang lain melalui kemampuan melakukan presentasi yang baik.
c.enguasai strategi pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif
melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun fisik, yang
dikenal sebagai pembelajaran interaktif.
Dan tujuan akhir pembelajaran adalah mampu memberikan motivasi menuju tercapainya organisasi pembelajar ( learning organization).
C. PENGERTIAN MEDIATOR
Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri-ciri penting dari mediator adalah :
1.netral
2.membantu para pihak
3.tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.
Jadi, peran mediator hanyalah membantu para pihak dengan cara tidak memutus atau memaksakan pandangan atau penilaiannya atas masalah-masalah selama proses mediasi berlangsung kepada para pihak.
Tugas-tugas Mediator
1.Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para pihakuntuk dibahas dan disepakati.
2.Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam proses mediasi.
3.Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus atau pertemuan terpisah selama proses mediasi berlangsung.
4.Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak.
Daftar Mediator
Demi kenyamanan para pihak dalam menempuh proses mediasi, mereka berhak untuk memilih mediator yang akan membantu menyelesaikan sengketa.
1.Untuk memudahkan para pihak memilih mediator, Ketua Pengadilan menyediakan daftar mediator yang sekurang-kurangnya memuat 5(lima) nama dan disertai dengan latar belakang pendidikan atau pengalaman dari para mediator.
2.Ketua Pengadilan menempatkan nama-nama hakim yang telah memiliki sertifikat dalam daftar mediator.
3.Jika dalam wilayah pengadilan yang bersangkutan tidak ada hakim dan bukan hakim yang bersertifikat, semua hakim pada pengadilanyang bersangkutan dapat ditempatkan dalam daftar mediator.
4.Kalangan bukan hakim yang bersertifikat dapat mengajukan permohonan kepada ketua pengadilan agar namanya ditempatkan dalam daftar mediator pada pengadilan yang bersangkutan
5.Setelah memeriksa dan memastikan keabsahan sertifikat, Ketua Pengadilan menempatkan nama pemohon dalam daftar mediator.
6.Ketua Pengadilan setiap tahun mengevaluasi dan memperbarui daftar mediator.
7.Ketua Pengadilan berwenang mengeluarkan nama mediator dari daftar mediator
berdasarkan alasan-alasan objektif, antara lain karena mutasi tugas, berhalangan
tetap, ketidakaktifan setelah penugasan dan pelanggaran atas pedoman perilaku.
Honorarium Mediator
1.Penggunaan jasa mediator hakim tidak dipungut biaya.
2.Uang jasa mediator bukan Hakim ditanggung bersama oleh para pihak
berdasarkan kesepakatan para pihak.
D. PENGERTIAN PAMONG
arti Pamong itu sendiri yaitu mengayomi, melindungi dan memberikan yang terbaik dalam rangka kegiatan pembangunan.
E. PENGERTIAN INSTRUKTUR
Instruktur adalah seseorang yang bertugas melakukan pembinaan terhadap peserta dalam forum pelatihan. Pembinaan dilakukan dengan melakukan transfer pengetahuan dan nilai-nilai Islam dalam suasana yang kondusif dan penuh rasa tanggungjawab. Dalam sistim pelatihan jama’ah Masjid, Instruktur terdiiri dari:
Definisi:
orang yang bertugas mengajarkan sesuatu dan sekaligus memberikan latihan dan bimbingannya; pengajar; pelatih; pengasuh: seorang guru sangat diperlukan untuk menjadi -- di pusat pendidikan pertukangan itu
1.Instruktur Pembicara.
Adalah Instruktur yang menyampaikan materi pelatihan kepada para peserta secara langsung dengan metode penyampaian yang tertentu. Pembicara berusaha untuk melakukan transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam serta berupaya memahamkannya kepada peserta sejelas-jelasnya.
2.Instruktur Pemandu.
Adalah Instruktur yang memandu acara penyampaian materi pelatihan kepada para peserta serta melakukan pengaturan proses belajar-mengajar di dalam pelatihan tersebut. Pemandu berusaha untuk mengantarkan peserta guna memahami materi pelatihan yang akan, sedang dan telah disampaikan oleh Pembicara.
Pada kenyataannya seorang Instruktur dapat berperan sebagai Pembicara maupun Pemandu pelatihan. Mereka dituntut untuk dapat memainkan peran tersebut secara profesional serta memiliki kualitas yang dapat diandalkan.
Pengertaian Psikolog, Psikiaris dan bedanya dengan Konselor
1. PENGERTIAN PSIKOLOGI
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental
2. PENGERTIAN PSIKIATER
Psikiater adalah dokter spesialis di bidang kesehatan jiwa (jiwa=pikiran, perasaan, dan perilaku). Definisi sehat menurut WHO adalah sehat badan, jiwa, dan sosial.
Sebagai seorang dokter, psikiater berupaya menolong pasien agar ia dapat menolong dirinya untuk bebas dari gejala menyakit dalam proses terapi.
Psikiater bukan pembela seseorang yang bermasalah dengan orang lain. Bukan juga bertugas menghakimi yang benar dan yang salah.
Dalam konsultasi psikiater mengajak klien atau pasien untuk menentukan sendiri pilihan dalam bertindak, setelah memperhitungkan risiko yang akan dihadapi dan cara mengatasinya. roses ini dilakukan secara sistematik profesional dan menjaga rahasia pribadi pasien.
Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk psikiater maka psikiater tidak akan mengambil contoh dirinya untuk diteladani orang lain. Jasa psikiater itu adalah untuk semua orang, dari bayi hingga usia lanjut (dari Psikiater anak, hingga psikiater geriatri).
Untuk siapa jasa psikiater?
1. Mereka yang sehat jiwa (klien) ke psikiater untuk :
a) Meningkatkan (promotif) kapasitas mental sehingga daya tahan menghadapi stres meningkat dan tak mudah jadi stres (sakit)
b) Mencegah (preventif) timbulnya gangguan jiwa dalam menghadapi masa penyesuaian diri terhadap perubahan keadaan (status, nikah, pindah, tugas pekerjaan, pendidikan, dll). Upaya ini dapat diawali dengan tes kapasitas mental untuk pemahaman diri dan latihan mengatasinya secara langsung.
c) Konsultasi mengenai orang lain yang menjadi tanggung jawabnya (misal : guru untuk murid, direktur untuk bawahan, dokter spesialis untuk pasien, pemimpin organisasi, dll).
2. Mereka yang sakit jiwa (pasien) ke psikiater untuk terapi (berobat jalan atau inap). Selanjutnya penyehatan tanpa obat.
3. Mereka yang cacat jiwanya akan direhabilitasi agar kecacatannya tidak menjadi lebih berat.
Jasa psikiater lebih banyak dapat dimanfaatkan oleh orang sehat karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
3. PENGERTIAN KONSELING
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul Bari : 2002).
Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.
Proses melalui satu orang membantu orang lain dengan komunikasi, dalam kondisi saling pengertian bertujuan untuk membangun hubungan, orang yang mendapat konseling dapat mengekspresikan pikiran& perasaannya dengan cara tertentu sesuai dengan situasi, melalui pengalaman baru, mamandang kesulitan objektif sehingga dapat menghadapi masalah dengan tidak terlalu cemas dan tegang.( SCA.C STEERING COOMUTE, 1996).
Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan usaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/ sikap dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan”.

Selasa, 11 Mei 2010

HISTERIA

Salah Satu Gangguan jiwa Adalah Histeria
Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria. Pada permulan orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita. Akan tetapi kemudian pendapat itu berudah setelah Freud menemukan bahwa laki-laki pun dapat dihinggapi penyakit ini. Seperti gangguan jiwa lainnya hysteria juga terjadi akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Dalam menghadapi kesukaran ia tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala hysteria. Gejala hysteria yang merupakan gejala fisik adalah :
1.Lumpuh hysteria
Lumpuhnya salah satu anggota fisik, akibat tekanan atau pertentangan batin yang tidak dapat diatasi. Biasanya penderita menggunakan gejala ini secara tidak sadar untuk membela diri dan untuk mengatasi kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Biasanya gejala lumpuh itu terjadi tiba-tiba dan penderita sebelum itu tidak merasa apa-apa.
Contoh :
Di waktu perang, seorang anggota militer tiba-tiba mengalami lumpuh pada jari telunjuknya (tidak bis digerakkan) diwaktu ia berhadapan dengan musuh. Pada waktu dioperasi ternyata tidak terdapat apa-apa pada jarinya tersebut. Dari penelitian selanjutnya terbukti bahwa kelumpuhan telunjuk itu adalah akibat dari perasan bimbang waktu ia akan menembak musuhnya. Ia bimbang antara menembak (matinya musuh) dengan tak ingin menembaknya. Akhirnya kelumpuhan jarinya itu menolongnya dalam mengatasi problemnya.
2.Cramp hysteria
Disebabkan pula oleh tekanan perasaan, yang sering kali terjadi pada penulis yang mencari penghidupan dengan tulisan-tulisannya. Apalagi ia mengalami bahwa tulisannya tidak banyak mendapat sambutan dari orang, ia kadang-kadang dihinggapi oleh cramp pada jari-jarinya waktu menulis. Tapi untuk mengerjakan pekerjaan lain jari-jarinya masih dapat digunakan. Cramp hysteria banyak pula terjadi pada pemain biola, juru tik, tukang jam, pegawai kantor telephone. Penyakit ini terjadi karena kegelisahan dan kecemasan yang dirasakannya akibat kebosanan menghadapi pekerjaan-pekerjaan itu.
3.Kejang hysteria
Seluruh badan terasa kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras, disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan, tapi tidak mengeluarkan air mata. Kejang-kejang ini biasa terjadi pada siang hari selama beberapa menit saja, tapi mungkin juga sampai beberapa hari lamanya.
Diantara tanda-tanda kejang hysteria adalah dalam pandangan matanya terlihat kebingungan. Setelah kejadian itu biasanya penderita kebingungan, tidak mau berbicara atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Biasanya serangan ini terjadi karena serangan emosi yang sangat menekan, seperti rasa tersinggung, tertekan perasaan, penyesalan, sedih dan sebagainya. Orang yang terserang biasanya memegang atau menarik apa yang dapat ia capai. Sebaiknya orang yang diserang kejang hysteria itu ditinggalkan saja sebagaiamana adanya.

Contoh :
Seorang calon mahasiswi berusia 20 tahun sedang menjalakan masa prabakti. Ketika apel tengah hari dengan kawan-kawannya tiba-tiba ia jatuh pingsan. Teman-teman bingung dan berusaha menolongnya, tetapi tak berhasil. Setelah akhirnya dia sadar, si gadis memandang sekelilingnya dengan mata kebingungan, dan ia minta gado-gado. Kawan-kawannya semakin bingung. Setelah penelitian, terbukti bahwa si gadis dengan ibu tirinya yang sangat membatasi kebebasan dan belanjanya. Waktu masa prabakti ia merasa sangat sedih, karena memerlukan uang jajan lebih banyak, tetapi takut memintanya pada orang tuanya. Ketika ia merasa lapar ia teringat akan kesusahan sehari-hari yang selalu dialaminya di rumah dan terlihatlah gejala-gejala itu.
Banyak ditemukan contoh-contoh seperti itu yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang tiba-tiba pingsan, tegang dan kaku badannya, yang disangkanya sakit ayan,sawan atau kena guna-guna. Padahal gejala ini adalah akibat dari rasa tertekan dan kegelisahan yang terlalu hebat.
4.Mutism (hilang daya bicara)
Mutism itu ada dua macam, pertama tak sanggup berbicara dengan keras dan kedua tak mampu berbicara sama sekali.
Hilangnya kemampuan untuk berbicara itu bukan disebabkan oleh kerusakan pada alat-alat percakapan seperti lidah, kerongkongan, pernapasan dan sebagainya. Alat-alat itu masih dapat melakukan fungsinya, tetapi orang tidak dapat berbicara. Biasanya gejala ini terjadi akibat tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal dan sebagainya. Demikian besarnya pertentangan batin sehingga menyebabkan lidah menjadi lumpuh.
5.Amnesia (hilang ingatan)
Hilang ingatan atau lupa pada kejadian-kejadian tertentu dalam hidup sangat erat hubungannya dengan emosi. Ia lupa akan sesuatu, kejadian tertentu, lupa pada orang yang dikenalnya bahkan lupa pada dirinya sendiri, namanya, rumahnya, pekerjaannya, dan sebagainya.
6. Kepribadian kembar (double personality)
Kepribadian kembar adalah salah satu gejala hysteria, yang disebabkan oleh kegelisahan yangamat sangat, dan dijadaikan cara untuk menghukum dirinya atau melepaskan diri dari ketegangan batin, kecemasan, atau konflik yang dirasakannya. Dalam hal ini penderita secara tidak sadar mengurung kepribadiannya yang pertama, sampai terpisah sama sekali dengan alam kenyataan. Disamping menghukum diri, hal ini digunakan sebagai penarik perhatian orang padanya.
Dalam kepribadian kembar, tindakan-tindakan yang negatif terlihat jelas sekali dimana penderitanya tidak mungkin bekerja sama dengan orang –orang yang sebelum sakit sering berhubungan dengannya. Penderita mendapat dua keuntungan yang jelas tanpa disadarinya yaitu pertama penderita menjauhkan sama sekali dari kesadarannya. Semua aspek kehidupan yang mencakup perasaan, tindakan, pengalaman,-pengalaman dan keseluruhan kepribadian yang lama, terpisah dari kesadarannya. Dalam hal kedua, salah satu kepribadian ditekan dengan jalan melupakan segala pengalaman-pengalaman yang dilaluinya dan menghapusnya dari ingatan. Hal ini dilakukan oleh kepribadian yang kedua.


7.Mengelana secara tidak sadar (fugue)
Salah satu gejala hysteria lain ialah, orang pergi mengelana berjalan tanpa tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi.
8.Jalan-jalan sedang tidur (somnabulism)
Orang yang diserang gejala ini di kuasai oleh sejumlah pikiran dan kenangan-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Meskipun ia sedang tidur, tapi masih dapat mengenal dan membedakan mana pintu yang tertutup dan mana pintu yang terbuka, dan mudah disuruh kembali ke tempat tidurnya. Waktu bangun pagi harinya, ia tidak tahu apa yan terjadi pada dirinya waktu tidur itu.
Contoh :
Seorang anak berumur 6 tahun, tiap-tiap malan sedang tidur selalu berjalan-jalan, kadang-kadang naik ke jendela, membuka pintu dan sebagainya. Setelah dperiksa terbukti bahwa si anak mempunyai watak yang keras, pendiam, dan suka mengganggu dengan suatu cara yangmenyebabkan orang tidak menyangka bahwa ia yang bersalah. Orang tua anak ini, mempunyai banyak anak, semuanya masih kecil-kecil. Dalam mendidik anak-anaknya mereka sering menggunakan kekerasan, sering memukul kadang-kadang sampai berbekas pada badan anak-anaknya, dan yang paling sering dipukul adalah anaknya yang menderita penyakit itu. Rupanya si anak yang ingin lari dari orang tua yang sangat kejam itu, akan tetapi ia tidak berani, karena tidak tahu kemana ia akan pergi. Timbul pertentangan dalam batinnya antara ingin menghindari kekerasan orang tua, dengan takut berpisah dari mereka. Akhirnya sedang tidur ia masih dikuasai oleh pikiran-pikiran ingin lari itu. Gejala-gejala itu disebabkan oleh kegoncangan jiwa, kecemasa, tekanan perasaan,. Ketakutan dan sebagainya.